Penyakit gigi-mulut bisa memicu penyakit yang lain seperti kelainan jantung, infeksi ginjal dan lambung, karena kuman yang terdapat dalam mulut bisa mengikuti aliran darah.
Namun kesadaran masyarakat untuk memeriksakan gigi masih rendah. Sehingga prevalansi karies gigi pada anak-anak usia sekolah masih tinggi, mencapai 85 persen. Kalau bisa dideteksi sedini mungkin, gigi yang bolong itu sebenarnya bisa diobati atau ditambal. Tapi kalau dibiarkan membusuk maka gigi bolong harus dicabut. Itu artinya, akan banyak anak sekolah yang ompong dan tidak bisa mengunyah makanan sehingga mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut.
Selain anak sekolah, Ibu hamil pun banyak yang mengalami karies gigi. Akibatnya, gigi ibu hamil yang ompong akan membuat berat badan bayi rendah atau premature.
Anak balita sekarang banyak yang mengalami karies gigi karena mereka meminum susu dengan botol sampai tidur. Seringkali susu yang mereka konsumsi banyak mengandung gula atau asam karena mengalami fermentasi bakteri. Ini akan merusak email gigi pada anak.
Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah banyak yang menyikat gigi tapi bukan pada waktu dan cara yang benar. Sikat gigi yang benar, harus dilakukan pada malam hari sebelum tidur, dan menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride.
PENTINGNYA FLUORIDE
Fluoride sangat penting untuk memperkuat enamel gigi, sehingga gigi tak gampang rusak. Fluoride bisa diberikan dalam bentuk gel atau pil. Biasanya dimulai sejak anak berusia 1 tahun atau 2 tahun, dan diulang setahun kemudian. Di usia 2 tahun, biasanya gigi anak masih bagus, sehingga proses fluoridasi bisa maksimal.
Pasta gigi juga mengandung fluoride. Tapi, biasanya anak nggak terlalu suka pasta gigi yang rasanya pahit. Mereka lebih suka pasta gigi yang memiliki rasa, misalnya rasa stroberi, orange, dan sebagainya. Padahal, kadar fluoride pasta gigi dengan rasa seperti itu biasanya sedikit.
Meski semua penduduk Indonesia sekitar 241 juta jiwa menyikat gigi, namun yang melakukannya dengan benar baru 7%. Selain itu hanya 23% penduduk yang menyadari memiliki masalah gigi dan mulut. Sementara 30% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga profesional.
Selain kesalahan dalam menyikat gigi, tingginya angka penderita karies gigi terjadi karena kesadaran masyarakat untuk ke dokter gigi masih rendah. Kesadaran orang dewasa di Indonesia untuk ke dokter gigi kurang dari 7%dan anak-anak hanya sekitar 4%.
Sementara menurut data dari Riskesdas pada 2007, diketahui masyarakat Indonesia berusia 12 tahun ke atas memiliki karies aktif (karies yang belum tertangani) dan 67,2 persen memiliki pengalaman karies.
Diperkirakan bahwa 90% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies. Prevalensi karies tertinggi terdapat di Asia dan Amerika Latin. Prevalensi terendah terdapat di Afrika. Di Amerika Serikat, karies gigi merupakan penyakit kronis anak-anak yang sering terjadi dan tingkatnya 5 kali lebih tinggi dari asma. Karies merupakan penyebab patologi primer atas penanggalan gigi pada anak-anak. Antara 29% hingga 59% orang dewasa dengan usia lebih dari limapuluh tahun mengalami karies.
Jumlah kasus karies menurun di berbagai negara berkembang, karena adanya peningkatan kesadaran atas kesehatan gigi.
Salam sehat… ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar