Apa bedanya Dokter Gigi dan Tukang Gigi yang banyak dipinggir jalan untuk bikin gigi palsu?
Kamis, 25 Agustus 2011
TUKANG GIGI DAN RESIKO INFEKSI (2)
Seorang tukang gigi, adalah orang yang belajar turun temurun. Dulunya di era tahun 60-an, ketika tenaga dokter gigi sangat kurang, dokter gigi biasa dibantu asisten. Dokter gigi jaman dulu mengerjakan semuanya. Karena para asisten ini terbiasa membantu dokter gigi, mereka pun jadi hapal urutan. Lalu mungkin karena memiliki jiwa mandiri mereka buka praktek sendiri. Secara dokter gigi jaman dulu sangat sedikit, maka mereka bisa masuk ke pelosok dan bermain dengan harga murah dalam menyelesaikan kasus terutama gigi palsu. Sebagian ilmu kawat gigi. Ilmu ini kemudian diturunkan turun temurun sampai sekarang. Tentunya, mereka tidak belajar anatomi, fisiologi, mekanika dengan benar. Apalagi masalah infeksi, saraf gigi, dan komplikasi, yang penting "pengalaman".
CALL US NOW !!
Rabu, 24 Agustus 2011
TUKANG GIGI DAN RESIKO INFEKSI (1)
Pemasangan gigi palsu di tukang gigi.
Biasanya pasien tersebut mengalami infeksi berat, pembengkakan bagian wajah, hampir seluruh gusi merah dan bengkak, disertai keadaan trismus/ tidak bisa membuka mulut. Selain itu juga terjadi halitosis (bau mulut) yang hebat. Setelah dilihat bagian dalam rongga mulutnya, terlihat gigi tiruan yang melekat erat tidak dapat dilepas yang diakui oleh si pasien dibuat di tukang gigi. Setelah gigi tsb berhasil dilepas, dibawahnya penuh dengan jamur (oral candidiasis).
Entah sampai kapan hal ini akan terjadi terus di masyarakat dengan membuat gigi tiruannya asal jadi tanpa memperhatikan anatomi, fisiologis rongga mulut, kebersihan dan kesehatan jaringan gusi dan penunjang gigi.
Gigi tiruan yang baik adalah gigi tiruan yang mudah dibersihkan, tidak menekan atau menyebabkan trauma pada jaringan lunak mulut, tidak menekan/merusak gigi penyangga disamping segi fungsional dan estetis yang baik.
Perlu ditindak
Menanggapi maraknya praktik tukang gigi, Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) drg. Zaura Rini Matram menuntut pengawasan dan tindakan yang lebih tegas dari pemerintah terhadap profesi tukang gigi yang bertindak di luar batas kewenangan.
Pemerintah telah mengatur batasan praktik tukang gigi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 339 tahun 1989 tentang kewenangan pekerjaan tukang gigi.
Dalam salah satu pasalnya tertulis bahwa tukang gigi dalam melakukan pekerjaannya diberikan wewenang dalam hal membuat gigi tiruan lepasan dari karilik sebagian atau penuh dan memasang gigi tiruan lepasan.
Dalam salah satu pasalnya tertulis bahwa tukang gigi dalam melakukan pekerjaannya diberikan wewenang dalam hal membuat gigi tiruan lepasan dari karilik sebagian atau penuh dan memasang gigi tiruan lepasan.
"Ke depannya, PDGI menganjurkan tukang gigi harus di hapus dan di hilangkan dari masyarakat. Masyarakat harus tahu, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan tukang gigi," ujar Rini.
PDGI beralasan, pelayanan tukang gigi yang ada saat ini tidak didasarkan pada pemahaman dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi.
"Membutuhkan pendidikan yang lama, karena kita bekerja pada jaringan yang hidup, yang berkaitan dengan kesehatan seluruh tubuh," jelasnya.
Risiko infeksi
Ia menambahkan, pemasangan kawat gigi yang saat ini marak di lakukan tukang gigi juga sangat ditentang PDGI. Jika hal ini dilakukan oleh pihak yang tidak berkompeten, maka bisa membawa efek samping yang lebih parah pada pasien.
Efek itu mulai dari infeksi ringan pada gusi sampai ke jaringan yang lebih dalam pada tulang yang menyebabkan pembengkakan. Selain itu, ada risiko jaringan yang tumbuh tidak normal, arahnya dapat berakibat pada keganasan.
Bukan hanya itu, penanganan yang tidak tepat juga bisa berakibat pada penyakit infeksi lainnya. Misalnya pada ibu hamil bisa berakibat kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan yang rendah.
"Tukang gigi sangat merugikan masyarakat, PDGI minta agar peraturan ini dilaksanakan dan ditegakkan. Untuk masalah kesehatan masyarakat, PDGI tidak mau kompromi," pungkasnya.
CALL US NOW !!
Get a personal dentist and change your oral
behaviour now.. call us :
{Call care} +623171403020
{Call care} +62817373783
{Private dentist pin BB} 2274638A
Email >> whitenvy@ymail.com
Facebook >> Whitenvy Dental Cosmetic
Follow us on Twitter >> @WHITENVY
Contact us on >> www.whitenvy.com
www.whitenvy.webs.com
www.whitenvy.blogspot.com
Practice Hour : by appointment & reference
only!
BIG LOVE [♥]
drg. Lauren White
Senin, 22 Agustus 2011
Penyebab dan Gejala Penyakit Gigi
Hal yang harus diperhatikan
- Biasakan anak membersihkan gigi sejak bayi atau sejak gigi pertama timbul sekitar berumur 6 bulan, karena karies gigi mulai tumbuh sejak gigi timbul.
- Bersihkan gigi bayi dengan kapas dua kali sehari, setelah anak dapat memegang sikat diajari untuk sikatan sendiri dan gunakan air matang untuk air kumurnya.
- Jangan biasakan anak minum susu setelah jam 10 malam atau sewaktu tidur, karena dapat menimbulkan karies gigi.
- Setelah makan gula-gula, coklat, es krim atau makanan manis lainnya harus sikat gigi atau kumur-kumur sampai bersih.
- Memeriksakan gigi dan mulut secara berkala ke dokter gigi
- Penggunaan obat gigi hanya untuk pertolongan pertama dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 3 hari.
- Bila rasa sakit berlanjut atau semakin parah, hentikan pengobatan dan segera ke dokter gigi.
- Obat kumur sebaiknya dikumur hanya untuk 1 mulut kemudian dibuang dan jangan ditelan.
Penyebab dan Gejala Penyakit Gigi
1. Karies gigi
Hal yang harus diperhatikan : karies gigi adalah kerusakan lapisan email dan dentin
Penyebab :
- Plak bakteri pada sisa-sisa makanan pada permukaan gigi Gejala
- Gigi lebih peka terhadap panas, dingin, dan ngilu sehabis makan makanan yang merangsang
Penanggulangan :
- Bersihkan gigi sehari 2 kali dengan cara yang benar
- Letakkan sebiji cengkeh pada gigi yang sakit sambil dihisap atau obat pereda nyeri.
- Setiap hari terasa sakit kumur-kumur dengan air rebusan 15 biji cengkeh.
- Septik mengencerkan dahak dan lain-lain.
- Untuk pengobatan atau perawatan selanjutnya agar ke dokter gigi.
2. Gingivitis
Hal yang harus diperhatikan : gingivitis adalah peradangan pada gigi
Penyebab : plak bakteri pada sisa makanan
Gejala :
- Pembengkakan gusi
- Rasa sakit dan kemerahan
Penanggulangan :
- Letakkan sebiji cengkeh pada gigi yang bengkak sambil dihisap atau obat pereda nyeri.
- Segera pergi ke dokter gigi
3. Periodontitis
Hal yang harus diperhatikan :
Hal yang harus diperhatikan :
- Periodontitis berada sekitar akar gigi
- Periodontitis adalah perluasan gingivitis sampai ke tulang penyangga gigi, gigi goyah, dan kemudian lepas
Penyebab : plak bakteri dari sisa makanan atau sistemik
Gejala : awalnya seperti yang tertera pada gingivitis
Penanggulangan :
- Sehari tiga kali kumur-kumur dengan air rebusan 15 biji cengkeh, air cengkeh dapat ditelan atau obat pereda nyeri.
- Setiap hari minum vitamin C 100-250 mg sehari atau setiap hari makan buah yang kaya vitamin C.
4. Stomatitis
Hal yang harus diperhatikan :
Hal yang harus diperhatikan :
- Stomatitis adalah radang pada mukosa mulut
- Merupakan gejala penyakit primer atau gejala dari penyakit sistemik.
Penyebab : infeksi bakteri atau jamur
Jumat, 19 Agustus 2011
Halitosis Saat Berpuasa...??
Bad Breath? No, Thank You!
Halitosis, si bau mulut, itu sungguh mengganggu, terutama pada saat berpuasa Ramadhan. Bau mulut membatasi interaksi dan menurunkan rasa percaya diri pengidapnya. Alhasil, bagi mereka yang setiap hari berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif, sangat terganggu dengan kehadiran si bau mulut ini.
Dari mana asalnya si bau mulut ini?
Bau mulut atau yang diistilahkan dalam ilmu kedokteran dengan halitosis pada orang berpuasa memang akan meningkat intensitasnya. Saya akan mengajak Beloved Patient dan pembaca untuk dapat mengerti mengenai bau mulut ini.
Apa penyebab bau mulut tidak sedap (Halitosis)?
Secara umum bau mulut tidak sedap (Halitosis) pada semua orang adalah disebabkan oleh sesuatu yang berasal dari dalam mulut orang tersebut dan juga apa yang dia makan atau minum. Bau mulut dapat disebabkan juga oleh mekanisme penyakit yang dapat bersifat lokal dalam mulut atau penyakit sistemik. Penyakit sistemik ini maksudnya penyakit yang berpengaruh terhaqdap seluruh sistem tubuh, misalnya Diabetes Melitus atau Keganasan (Cancer).
Sesuatu dalam mulut itu dapat berupa makanan sisa yang tersangkut diantara gigi, yang dapat membusuk dan kemudian menjadi tempat tumbuh kembang bakteri yang baik. Tentunya juga mekanisme tersebut menimbulkan bau mulut menjadi tidak sedap. Penyakit lokal dalam mulut dapar berupa penyakit gigi dan jaringan lunak dalam rongga mulut seperti gusi dan lidah. Makan yang kita konsumsi pun dapat menimbulkan bau mulut yang tidak sedap, misalnya bahan makanan dengan bumbu rempah yang banyak dan juga bawang. Alkohol juga menimbulkan permasalahan bau mulut. Masalah lain yang berkait dengan bau mulut pada seseorang adalah juga masalah psikologis dimana seseorang dapat saja memiliki citra bahwa dirinya memiliki bau mulut yang tidak enak dan merasakan bau mulut sebagai sebuah gangguan berarti walaupun sebenarnya orang tersebut relatif dibandingkan dengan orang lainnya memiliki bau mulut yang normal saja. Disini masalahnya sudah kepada citra diri dari orang yang bersangkutan.
Permasalahan bau mulut tidak sedap, jenis dan penanganannya.
Dalam menentukan tingkatan bau mulut yang dimiliki seseorang dapat dipakai beberapa metode pengukuran. Ada 3 metode yang biasanya sering digunakan dalam ilmu kedokteran gigi dalam mengetahui adanya gangguan bau mulut dan juga menggolongkan derajat gangguan yang terjadi. Ke-3 metode tersebut adalah pengukuran organoleptic, kromatografi gas dan monitoring sulfit. Pembagian bau mulut tidak sedap dapat dilihat sebagaimana terdapat dalam tabel berikut ini :
NO | JENIS | TINDAKAN | PENJELASAN | |
01 | Halitosis | Bau mulut yang objektif dibandingkan dengan lingkungan normal tidak sedap. | ||
Fisiologis | TN-1 | |||
Patologis | Disebabkan oleh penyakit | |||
Dalam Mulut | TN-1 & TN-2 | Penyakit berasal dari dalam rongga mulut | ||
Luar Mulut | TN-1 & TN-3 | Penyakit berasal dari luar rongga mulut | ||
02 | Halitosis semu | TN-1 & TN-4 | Tidak terdapat bau mulut yang menggangu. | |
03 | Halitofobi | TN-1 & TN-5 | Faktor psikis | |
* TN : Treatments Need -> Jenis tindakan perawatan yang dilakukan
Adapun jenis-jenis tindakan perawatan yang dilakukan pada kasus bau mulut tidak sedap adalah sebagai berikut :
NO | KATEGORI | DESKRIPSI TINDAKAN |
01 | TN-1 | Penjelasan mengenai halitosis dan kebersihan rongga mulut. Perbaikan kondisi bau mulut diharapkan berasal dari diri sendiri. |
02 | TN-2 | Penanganan profesional untuk penyakit yang ada (Biasanya penyakit periodontal=gigi dan gusi) dan membersihkan rongga mulut |
03 | TN-3 | Penanganan bersama dengan profesional untuk penyakit luar rongga mulut yang menyebabkan bau mulut tidak sedap |
04 | TN-4 | Penjelasan profesional dan juga pengawasan terhadap kejadian bau mulut yang berpotensi timbul |
05 | TN-5 | Rujukan psikologis dan psikiatri |
* TN-1 harus dilakukan pada semua kasus yang memerlukan TN-2 sampai TN-5
Bagaimana dengan bau mulut tidak sedap orang berpuasa? Apa penyebabnya?
Pada orang berpuasa, mulut relatif lebih kering karena pemasukan makanan dan minuman yang terhenti untuk kurun waktu tertentu. Kondisi mulut kering merupakan pencetus utama munculnya bau mulut tidak sedap saat berpuasa. Mekanisme untuk menjaga kelembaban rangga mulut utamanya dimainkan oleh air liur kita. Pada saat puasa, dimana terjadi penghentian proses asupan makan dan minum selama kurun waktu tertentu menyebabkan jumlah air liur yang diproduksi dan dikeluarkan menjadi lebih sedikit sehingga mulut menjadi relatif lebih kering. Mekanisme air liur mencegah timbulnya bau mulut dengan menyapu sisa-sisa makanan dan juga bakteri yang ada dalam rongga mulut sehingga dengan sendirinya menjaga kebersihan rongga mulut.
Bagaimana mencegah timbulnya bau mulut tidak sedap?
Prinsip utama yang dilakukan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam tabel penanganan permasalahan bau mulut tidak sedap adalah dengan menjaga kebersihan rongga mulut kita. Selain itu jika memang terdapat permasalahan medis yang menjadi dasar munculnya bau mulut tidak sedap, maka permasalahan tersebut harus ditangani secara baik terlebih dahulu. Perlu ditekankan juga bahwasanya permasalahan bau mulut pada orang berpuasa, tentunya yang tidak memiliki permasalahan kesehatan yang dapat menimbulkan bau mulut tidak sedap sebelumnya, adalah sesuatu yang normal kejadiannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Pada saat orang tersebut berbuka, produksi air liur akan meningkat dan akan melakukan fungsi utama menjaga kebersihan rongga mulut.
Tips Mencegah / Menanggulangi Halitosis
Bau mulut disebabkan oleh bermacam faktor, karenanya untuk kesehatan dan menambah rasa percaya diri hindari atau hilangkan penyebab bau mulut dengan cara:
- Periksakan kondisi gigi dan mulut ke dokter gigi Anda untuk menemukan penyebab timbulnya bau mulut/halitosis. Dokter gigi akan menyarankan untuk pergi ke dokter umum untuk pemeriksaan lanjut bila kondisi gigi dan mulut baik tetapi bau mulut tetap terjadi.
- Menyikat gigi 2x sehari; sehabis sahur dan malam sebelum tidur. Proses menyikat gigi harus dilakukan secara seksama dan menyeluruh, termasuk dengan menyikat lidah khususnya area pangkal lidah karena merupakan tempat bersarangnya beragam bakteri termasuk bakteri anaerob yang mampu hidup bahkan tanpa adanya oksigen.
- Selama bulan puasa, hindari makanan/ minuman yang aromanya menyengat/ tajam baik saat buka puasa maupun saat sahur, seperti bawang putih dan keju. Sebisa mungkin hindari merokok saat sahur dan berbuka puasa
- Ketika sahur dan berbuka konsumsi makanan berserat seperti buah dan sayuran yang dapat merangsang produksi air liur lebih banyak untuk mendapatkan efek ’self cleansing’ harus diperbanyak.
- Usahakan untuk mengkonsumsi 8 gelas air sehari yaitu 4 gelas ketika sahur dan 4 gelas saat berbuka.
Periodontitis, Bukan Pendarahan Gusi Biasa
Kata “periodontitis” berasal dari peri (“sekitar”), odont (“gigi”) dan itis (“peradangan”). Periodontitis adalah radang gusi (gingivitis) parah di mana peradangan gusi meluas hingga ke struktur pendukung gigi.
Peradangan tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri yang berkembang biak pada plak dan tartar yang terbentuk di antara gigi dan gusi, yang kemudian menyebar ke tulang di bawah gigi sehingga mempengaruhi jaringan yang mengelilingi dan mendukung gigi.
Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang.
Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi dan melihat apakah ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan bawah saat menggigit juga akan diperiksa.
GEJALA
Periodontitis pada awalnya tidak menyakitkan penderitanya, namun pada tahap lanjut bisa membuat gigi-gigi mudah lepas. Infeksi bakteri menggerus tulang tempat berpijak gigi dan melemahkan perlekatannya. Selain karies gigi, periodontitis adalah penyebab umum kehilangan gigi pada orang dewasa.
Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Periodontitis memiliki gejala yang sangat sedikit sehingga banyak pasien yang baru berobat setelah penyakit itu berkembang secara signifikan. Gejala yang dapat timbul antara lain:
- Gusi memerah atau berdarah saat menyikat gigi atau menggigit makanan keras (jambu biji, misalnya)
- Gusi sering membengkak
- Halitosis atau bau mulut, dan rasa getir terus-menerus dalam mulut
- Resesi gingiva, sehingga gigi tampak memanjang. (Ini juga dapat disebabkan karena menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan sikat gigi terlalu kaku)
- Lubang dalam di antara gigi dan gusi
- Gigi longgar, pada tahap lanjut (meskipun hal ini mungkin terjadi karena alasan lain)
Pasien harus menyadari bahwa inflamasi gingiva dan penghancuran tulang sebagian besar menyakitkan. Oleh karena itu, orang mungkin menganggap salah bahwa perdarahan tanpa rasa sakit setelah membersihkan gigi tidak signifikan, meskipun ini mungkin merupakan gejala dari kemajuan periodontitis pada pasien itu.
Kamis, 18 Agustus 2011
Perbedaan Gingivitis dan Periodontitis
Gingivitis biasanya mendahului periodontitis. Bagaimanapun, adalah penting untuk mengetahui bahwa tidak semua gingivitis berlanjut ke periodontitis.
Pada keadaan awal dari gingivitis, bakteri-bakteri dalam plaque terbentuk, menyebabkan gusi-gusi menjadi meradang (merah dan bengkak) dan seringkali dengan mudah berdarah sewaktu sikat gigi. Meskipun gusi-gusi mungkin teriritasi, gigi-gigi masih dengan kuat tertanam dalam rongga-rongga mereka. Tidak ada kerusakan tulang atau jaringan lain yang tidak dapat dikembalikan telah terjadi pada stadium ini.
GINGIVITIS juga umumnya disebut penyakit gusi atau penyakit periodontal, menggambarkan kejadian-kejadian yang mulai dengan pertumbuhan bakteri didalam mulut anda dan mungkin berakhir - jika tidak dirawat dengan benar - dengan kehilangan gigi yang disebabkan oleh pengrusakan dari jaringan yang mengelilingi gigi-gigi anda.
Jika gingivitis dibiarkan tidak dirawat, ia dapat berlanjut ke periodontitis. Pada orang dengan periodontitis, lapisan bagian dalam dari gusi dan tulang menjauh dari gigi-gigi dan membentuk kantong-kantong (pockets). Ruang-ruang kecil ini antara gigi-gigi dan gusi-gusi mengumpulkan puing-puing (kotoran) dan dapat menjadi terinfeksi. Sistim imun tubuh melawan bakter-bakteri ketika plaque menyebar dan tumbuh dibawah garis gusi.
Racun-racun - yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri dalam plaque serta enzim-enzim tubuh yang "baik" yang terlibat dalam memerangi infeksi-infeksi - mulai mengurai tulang dan jaringan penghubung yang memegang gigi-gigi pada tempatnya. Ketika penyakitnya berlanjut, kantong-kantong (pockets) mendalam dan lebih banyak jaringan gusi dan tulang yang dirusak. Ketika ini terjadi, gigi-gigi tidak lagi tertanam pada tempatnya, mereka menjadi lebih kendur, dan kehilangan gigi terjadi. Penyakit gusi, nyatanya, adalah penyebab yang memimpin dari kehilangan gigi pada kaum dewasa.
PERIODONTITIS adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (= jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang).
Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal. Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang.
Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal. Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang.
Langganan:
Komentar (Atom)
