Jumat, 19 Agustus 2011

Halitosis Saat Berpuasa...??

Bad Breath? No, Thank You!

Halitosis, si bau mulut, itu sungguh mengganggu, terutama pada saat berpuasa Ramadhan. Bau mulut membatasi interaksi dan menurunkan rasa percaya diri pengidapnya. Alhasil, bagi mereka yang setiap hari berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif, sangat terganggu dengan kehadiran si bau mulut ini.

Dari mana asalnya si bau mulut ini?

Bau mulut atau yang diistilahkan dalam ilmu kedokteran dengan halitosis pada orang berpuasa memang akan meningkat intensitasnya. Saya akan mengajak Beloved Patient dan pembaca untuk dapat mengerti mengenai bau mulut ini.

Apa penyebab bau mulut tidak sedap (Halitosis)?
Secara umum bau mulut tidak sedap (Halitosis) pada semua orang adalah disebabkan oleh sesuatu yang berasal dari dalam mulut orang tersebut dan juga apa yang dia makan atau minum. Bau mulut dapat disebabkan juga oleh mekanisme penyakit yang dapat bersifat lokal dalam mulut atau penyakit sistemik. Penyakit sistemik ini maksudnya penyakit yang berpengaruh terhaqdap seluruh sistem tubuh, misalnya Diabetes Melitus atau Keganasan (Cancer).
Sesuatu dalam mulut itu dapat berupa makanan sisa yang tersangkut diantara gigi, yang dapat membusuk dan kemudian menjadi tempat tumbuh kembang bakteri yang baik. Tentunya juga mekanisme tersebut menimbulkan bau mulut menjadi tidak sedap. Penyakit lokal dalam mulut dapar berupa penyakit gigi dan jaringan lunak dalam rongga mulut seperti gusi dan lidah. Makan yang kita konsumsi pun dapat menimbulkan bau mulut yang tidak sedap, misalnya bahan makanan dengan bumbu rempah yang banyak dan juga bawang. Alkohol juga menimbulkan permasalahan bau mulut. Masalah lain yang berkait dengan bau mulut pada seseorang adalah juga masalah psikologis dimana seseorang dapat saja memiliki citra bahwa dirinya memiliki bau mulut yang tidak enak dan merasakan bau mulut sebagai sebuah gangguan berarti walaupun sebenarnya orang tersebut relatif dibandingkan dengan orang lainnya memiliki bau mulut yang normal saja. Disini masalahnya sudah kepada citra diri dari orang yang bersangkutan.

Permasalahan bau mulut tidak sedap, jenis dan penanganannya.
Dalam menentukan tingkatan bau mulut yang dimiliki seseorang dapat dipakai beberapa metode pengukuran. Ada 3 metode yang biasanya sering digunakan dalam ilmu kedokteran gigi dalam mengetahui adanya gangguan bau mulut dan juga menggolongkan derajat gangguan yang terjadi. Ke-3 metode tersebut adalah pengukuran organoleptic, kromatografi gas dan monitoring sulfit. Pembagian bau mulut tidak sedap dapat dilihat sebagaimana terdapat dalam tabel berikut ini :

NO
JENIS
TINDAKAN
PENJELASAN
01
Halitosis
Bau mulut yang objektif dibandingkan dengan lingkungan normal tidak sedap.
Fisiologis
TN-1
Patologis
Disebabkan oleh penyakit
Dalam Mulut
TN-1 & TN-2
Penyakit berasal dari dalam rongga mulut
Luar Mulut
TN-1 & TN-3
Penyakit berasal dari luar rongga mulut
02
Halitosis semu
TN-1 & TN-4
Tidak terdapat bau mulut yang menggangu.
03
Halitofobi
TN-1 & TN-5
Faktor psikis
* TN : Treatments Need -> Jenis tindakan perawatan yang dilakukan
Adapun jenis-jenis tindakan perawatan yang dilakukan pada kasus bau mulut tidak sedap adalah sebagai berikut :

NO
KATEGORI
DESKRIPSI TINDAKAN
01
TN-1
Penjelasan mengenai halitosis dan kebersihan rongga mulut. Perbaikan kondisi bau mulut diharapkan berasal dari diri sendiri.
02
TN-2
Penanganan profesional untuk penyakit yang ada (Biasanya penyakit periodontal=gigi dan gusi) dan membersihkan rongga mulut
03
TN-3
Penanganan bersama dengan profesional untuk penyakit luar rongga mulut yang menyebabkan bau mulut tidak sedap
04
TN-4
Penjelasan profesional dan juga pengawasan terhadap kejadian bau mulut yang berpotensi timbul
05
TN-5
Rujukan psikologis dan psikiatri
* TN-1 harus dilakukan pada semua kasus yang memerlukan TN-2 sampai TN-5

Bagaimana dengan bau mulut tidak sedap orang berpuasa? Apa penyebabnya?
Pada orang berpuasa, mulut relatif lebih kering karena pemasukan makanan dan minuman yang terhenti untuk kurun waktu tertentu. Kondisi mulut kering merupakan pencetus utama munculnya bau mulut tidak sedap saat berpuasa. Mekanisme untuk menjaga kelembaban rangga mulut utamanya dimainkan oleh air liur kita. Pada saat puasa, dimana terjadi penghentian proses asupan makan dan minum selama kurun waktu tertentu menyebabkan jumlah air liur yang diproduksi dan dikeluarkan menjadi lebih sedikit sehingga mulut menjadi relatif lebih kering. Mekanisme air liur mencegah timbulnya bau mulut dengan menyapu sisa-sisa makanan dan juga bakteri yang ada dalam rongga mulut sehingga dengan sendirinya menjaga kebersihan rongga mulut.

Bagaimana mencegah timbulnya bau mulut tidak sedap?
Prinsip utama yang dilakukan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam tabel penanganan permasalahan bau mulut tidak sedap adalah dengan menjaga kebersihan rongga mulut kita. Selain itu jika memang terdapat permasalahan medis yang menjadi dasar munculnya bau mulut tidak sedap, maka permasalahan tersebut harus ditangani secara baik terlebih dahulu. Perlu ditekankan juga bahwasanya permasalahan bau mulut pada orang berpuasa, tentunya yang tidak memiliki permasalahan kesehatan yang dapat menimbulkan bau mulut tidak sedap sebelumnya, adalah sesuatu yang normal kejadiannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Pada saat orang tersebut berbuka, produksi air liur akan meningkat dan akan melakukan fungsi utama menjaga kebersihan rongga mulut.

Tips Mencegah / Menanggulangi Halitosis

Bau mulut disebabkan oleh bermacam faktor, karenanya untuk kesehatan dan menambah rasa percaya diri hindari atau hilangkan penyebab bau mulut dengan cara:
  • Periksakan kondisi gigi dan mulut ke dokter gigi Anda untuk menemukan penyebab timbulnya bau mulut/halitosis. Dokter gigi akan menyarankan untuk pergi ke dokter umum untuk pemeriksaan lanjut bila kondisi gigi dan mulut baik tetapi bau mulut tetap terjadi.
  • Menyikat gigi 2x sehari; sehabis sahur dan malam sebelum tidur. Proses menyikat gigi harus dilakukan secara seksama dan menyeluruh, termasuk dengan menyikat lidah khususnya area pangkal lidah karena merupakan tempat bersarangnya beragam bakteri termasuk bakteri anaerob yang mampu hidup bahkan tanpa adanya oksigen.
  • Selama bulan puasa, hindari makanan/ minuman yang aromanya menyengat/ tajam baik saat buka puasa maupun saat sahur, seperti bawang putih dan keju. Sebisa mungkin hindari merokok saat sahur dan berbuka puasa
  • Ketika sahur dan berbuka konsumsi makanan berserat seperti buah dan sayuran yang dapat merangsang produksi air liur lebih banyak untuk mendapatkan efek ’self cleansing’ harus diperbanyak.
  • Usahakan untuk mengkonsumsi 8 gelas air sehari yaitu 4 gelas ketika sahur dan 4 gelas saat berbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar